Sabtu, 11 Juni 2011

biodata presiden indonesia

Ir. Soekarno



Nama: Ir. Soekarno
Nama Panggilan: Bung Karno
Nama Kecil: Kusno.
Lahir: Blitar, Jatim, 6 Juni 1901
Meninggal: Jakarta, 21 Juni 1970
Makam: Blitar, Jawa Timur
Gelar (Pahlawan): Proklamator
Jabatan: Presiden RI Pertama (1945-1966)
Isteri dan Anak: Tiga isteri delapan anak
Isteri Fatmawati, anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh
Isteri Hartini, anak: Taufan dan Bayu
Isteri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto, anak: Kartika.

Ayah: Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu: Ida Ayu Nyoman Rai
Pendidikan:
HIS di Surabaya (indekos di rumah Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)
HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920
THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926

Ajaran: Marhaenisme
Kegiatan Politik: Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927
Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929
Bergabung memimpin Partindo (1931)
Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945
Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945


H.M. Soeharto



Nama: H. Muhammad Soeharto
Lahir: Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Meningal : 27 Januari 2008
Agama: Islam

Jabatan Terakhir: Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Pangkat: Jenderal Besar (Bintang Lima)

Isteri: Ibu Tien Soeharto ( Siti Hartinah)

Anak:
Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
Sigit Harjojudanto
Bambang Trihatmodjo
Siti Hediati
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih

Ayah: Kertosudiro
Ibu: Sukirah

B.J. Habibie



Nama: Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir: Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama: Islam
Jabatan : Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center
Istri: dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)
Anak: Ilham Akbar dan Thareq Kemal
Cucu: Empat orang
Ayah: Alwi Abdul Jalil Habibie
Ibu: R.A. Tuti Marini Puspowardoyo
Jumlah Saudara: Anak Keempat dari Delapan Bersaudara

Pendidikan :
1. ITB Bandung, tahun 1954
2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).
4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.

Pekerjaan :
1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.

Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan:
Theodore van Karman Award


Abdurrahman Wahid (Gus Dur)



Nama: Abdurrahman Wahid
Lahir : Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua: Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri : Sinta Nuriyah
Anak-anak : Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir:
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)


Megawati Sukarno Putri




Nama : Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap : Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir : Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama : Islam
Suami : Taufik Kiemas
Anak: 3 orang, (2 putra, 1 putri)

Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)

Pendidikan :
:: SD s/d SMA Perguruan Cikini
:: Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
:: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).

Organisasi :
:: Aktivis GMNI, 1965-1972
:: Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Cabang Jakarta Pusat
:: Ketua Umum DPP PDI, 1993-1998, Hasil Munas 1993, 22 Desember 1993-1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, 1998-April 2000, Hasil Kongres 1998, Sanur, Bali, 8-10 Oktober 1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005, Hasil Kongres PDI-P, Semarang, Jawa Tengah, April 2000
:: Peserta Konvensi Wanita Islam International di Pakistan, 1994

Penghargaan
:: “Priyadarshni Award” dari lembaga Priyadarshni Academy, Mumbay, India, 19 September 1998
:: Doctor Honoris Causa dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, 29 September 2001


Susilo Bambang Yudhoyono



Nama : Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir : Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama : Islam
Istri : Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak : Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono

Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Pendidikan:
= Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
= American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
= Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
= Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
= On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
= Jungle Warfare School, Panama, 1983
= Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
= Kursus Komando Batalyon, 1985
= Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
= Command and General Staff College, Fort = Leavenwort,Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS

Karier:
- Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
- Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
- Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
- Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
- Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
- Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
- Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
- Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
- Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
- Dosen Seskoad (1989-1992)
- Korspri Pangab (1993)
- Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
- Asops Kodam Jaya (1994-1995)
- Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
- Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
- Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
- Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
- Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
- Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
- Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
- Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
- Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan diri 11 Maret 2004

Penugasan:
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988

Penghargaan:
- Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
- Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
- Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003.

kejadian bencanadi indonesia 2011

                                                                                gempa
Gempa dengan kekuatan 6,1 skala Richter mengguncang Blitar, Jawa Timur, Selasa 17 Mei 2011 pukul 07.14 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Seperti dimuat Twitter Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pusat gempa berada di 170 kilometer tenggara Blitar. Lindu terjadi di kedalaman 25 kilometer. Belum diketahui apakah gempa menimbulkan kerusakan.
Warga malang, Nostal Nuan Saputri mengaku getaran gempa Blitar terasa hingga Malang. "Kalau beraktivitas tidak terasa, tapi kalau tiduran terasa. Tempat tidur bergerak-gerak, kaca bergetar," kata dia.
Namun, menurut BMKG, gempa Blitar yang berada di 9.55 Lintang Selatan dan 112.55 Bujur Timur itu tidak berpotensi tsunami.
Untuk diketahui, pesisir selatan Jatim dan Bali masuk dalam zona bahaya gempa yang berpotensi tsunami. Sebab, di wilayah selatan Jatim terdapat patahan panjang mulai dari Sumatera.
                                                                           gunung meletus
Semenjak ada peningkatan aktivitas vulkanisme di dataran tinggi  Dieng, Jawa Tengah yang ditandai dengan meningkatkan kadar gas-gas yang berbahaya bagi penduduk dan sumberdaya alam di sekitarnya seperti hewan dan tanaman, maka perhatian manajemen bencana menuju kearah Dieng.  Mengapa di dataran tinggi Dieng seringkali terjadi letusan gas berbahaya?.   Secara geografis , Dieng merupakan wilayah hulu dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Serayu yang bermuara di sebelah timur Cilacap. DAS Serayu tergolong DAS Super Kritis karena beberapa hal : (a) tingginya erosi akibat pola penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya, (b) tingginya sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan sungai termasuk pendangkalan Waduk Mrica di Banjarnegara yang mempunyai nilai strategis untuk PLTA, pengendali banjir dan sumber irigasi, (c) terjadinya banjir dan kekeringan dan (d) menurunnya daya tarik untuk wisatawan.  Slogan yang tepat untuk daerah turis Dieng adalah ‘Dying Dieng’, karena potensi sumberdaya alam dan lingkungannya telah
mengalami kerusakan/degradasi yang sangat serius.  Daya dukung lingkungan telah terlampaui, sehingga sangat sukar untuk memulihkan kondisi lingkungannya.
Secara geologis, wilayah Dieng merupakan dataran tinggi (Plateau) yang terbentuk oleh kawah gunung berapi, namun sudah tidak aktif lagi.  Hingga kini aktivitas vulkanisme merupakan aktivitas ‘post volcanism’, terdapat kawah sebagai keluarnya berbagai gas dan uap air.  Salah satu bahaya yang ada adalah keluarnya gas yang sangat beracun dan berbahaya yaitu gas karbon monoksida (CO) dan atau gas karbon dioksida (CO2).  Beberapa kawah seperti kawah Sikidang, Sinila dan Timbang sangat berpotensi menimbulkan bencana.  Ingat kawah Sinila tahun 1979 terjadi ledakan besar dan mengeluarkan gas beracun CO2 dan H2S yang mengakibatkan ratusan penduduk meninggal dan 55 orang hilang. 
Meningkatnya kadar gas CO2 yang telah melebihi ambang batas yang ditetapkan aman yaitu 0,5 persen volume, tanggal 29 Mei yang lalu telah mencapai 0,86 persen volume.  Jika nantinya ada kecenderungan meningkat, maka perubahan status level 2 (waspada) dapat saja terjadi menjadi awas.   Tidak ada salahnya apabila pemantauan secara intensif terhadap kandungan gas berbahaya ini terus dipantau dan segera diinformasikan kepada seluruh masyarakat yang tinggal di daerah berbahaya.  Tidak ada alasan kawasan Dieng harus segera ditutup sementara untuk wisatawan, terutama di radius yang telah ditetapkan oleh PVMBG. 
Penetapan radius aman menjadi 1 km nampaknya akan menimbulkan gelombang pengungsi yang sangat banyak.  BPBD Jawa Tengah dan BPBD Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo tentu dapat bekerja sama dalam menangani korban bencana ini.  Penataan jalur evakuasi, lokasi pengungsian dan jaminan sosial untuk para pengungsi harus dikelola dengan baik, agar risiko bahaya gas-gas beracun dapat diminimalisir. 
Menurut hasil penelitian PSBA UGM tahun 2004/2005 dinyatakan bahwa salah satu masalah lingkungan di dataran tinggi Dieng adalah meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan.  Ada korelasi positip antara kepadatan penduduk dengan kerusakan lahan, yang pada akhirnya juga menimbulkan bahaya lingkungan (environmental hazards) semakin meningkat.  Jadi Dieng dapat diklasifikasikan sebagai daerah wisata yang menyandang predikat ‘multiple disasters’, bahaya dan risiko bencana semakin banyak.
Manajemen risiko lingkungan menjadi pilihan yang tepat manakala beberapa kawasan di daerah ini akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik, menjadi pilihan wisata minat khusus. Analisis risiko bahaya lingkungan bisa dilakukan dengan cara antara lain : (a)  mengidentifikasi dan penilaian antara potensi dan bahaya lingkungan yang mungkin timbul, (b) analisis kerentanan masyarakat baik secara fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan, (c) analisis elemen berisiko dari ancaman bahaya seperti potensi lahan,  tanaman/sayuran, potensi sungai, waduk, telaga, mata air, dan infrastruktur. Untuk meminimalisir jumlah korban akibat bencana di Dieng maka perlu dilakukan pengembangan sistem peringatan dini bahaya, peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat akan bahaya, peningkatan kemampuan BPBD dalam menangani bencana, dan dukungan dana yang memadai bagi program mitigasi bencana di masa mendatang agar kegiatannya tidak sporadis dan kontinyuitasnya masih dipertanyakan, sehingga slogan ”membangunan masyarakat yang tahan bencana” bisa terwujud.
                                                                               tanah longsor
Sebanyak 266 unit rumah rusak akibat tanah longsor di Kota Ambon, Provinsi Maluku, selama musim hujan sejak 13 Mei hingga awal Juni 2011.

Hasil pendataan Dinas Sosial Kota Ambon seperti dusampaikan Kepala Dinas Sosial Kota Ambon M.A.Namsa, Jumat, juga menunjukkan bahwa talud tanah yang rusak sebanyak 39 titik dan talud yang dipasang di pinggir aliran sungai enam titik, yang tersebar di beberapa desa dan kelurahan.

"Warga yang mengungsi sebanyak 324 kepala keluarga (KK)," katanya.

Pengungsi terbanyak berasal dari Desa Wailela dan Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, yakni 275 KK atau 892 jiwa, di mana 134 KK akibat mengalami banjir, sedangkan 141 KK lainnya akibat tanah longsor yang menutupi sebagian besar rumah yang terjadi 13 Mei 2011 saat Kota Ambon diguyur hujan lebat, namun semuanya sudah kembali ke rumah mereka masing - masing.

Namsa menjelaskan, semua yang mengalami musibah baik tanah longsor maupun banjir sudah ditangani dengan memberikan bantuan tanggap darurat baik berupa makanan, peralatan dapur untuk memasak, selimut, tikar, terpal maupun karung.

Menurut Namsa, musim hujan di Kota Ambon belum berhenti. Karena itu pihaknya berharap masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan tanah longsor selalu memperhatikan imbauan dari Pemerintah Kota Ambon untuk berhati - hati.

Apabila turun hujan yang lebat, masyarakat diminta segera menjauh dari dari lokasi tersebut sebab jika terjadi bencana akan menyebabkan korban lebih besar.

Terkait bantuan, ia mengatakan, Dinas Sosial Kota hanya melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi, itu berarti dalam tim penanggulangan bencana Dinas Sosial hanya menangani bantuan tanggap darurat.

Tim Penanggulangan bencana terdiri atas beberapa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baik dari Dinas PU, Kesehatan, Tata kota, Dinas Perhubungan dan Dinas terkait lainnya, kata Namsa.

Karena itu jika ada masyarakat yang terkena bencana tanah longsor maupun banjir diharapkan melapor kepada Wali Kota Ambon selaku ketua tim satuan penanggulangan bencana.

"Memang melalui surat itu lama, karena kalau dari Desa disampaikan kepada camat tetap tembusannya harus sampai pada instansi terkait agar bisa mengetahui juga, karena kalau melalui camat saja memerlukan waktu yang lama," ujarnya.

Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami SKPD dengan bidang tugas masing - masing.

Khusus untuk Dinas Sosial dalam menyalurkan bantuan tanggap darurat juga memiliki aturan dan mekanisme, di mana bantuan itu disalurkan bagi masyarakat yang mengalami bencana dan sudah tidak bisa lagi melaksanakan aktivitasnya.

"Jadi kalau ada masyarakat yang rumahnya terlanda banjir pada saat musim hujan dan air masuk ke dalam rumah dalam jangka waktu satu jam tidak akan diberikan bantuan,' ujarnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat bisa memahaminya, apalagi ada imbauan dari Wali Kota Ambon bahwa bagi masyarakat yang tinggal di lereng gunung dan bantaran sungai dan tidak memiliki izin membangun (IMB) tidak akan diberikan bantuan
                                                                              banjir
Sebanyak 24 desa di dua kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, terkepung banjir bandang setingi dua meter, akibat meluapnya Sungai Krueng Peuto menyusul hujan lebat yang mengguyur wilayah itu.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Kabupaten Aceh Utara Idris di Lhokseumawe, Senin menyatakan, banjir bandang yang terjadi Senin (23/5) dini hari tergolong banjir yang parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Banjir bandang yang terjadi sekira pukul 03.00 WIB itu mencapai ketinggian rata-rata dua meter, akibatnya sebanyak 24 desa dalam dua kecamatan keseluruhan terendam banjir," katanya. Sejumlah sekolah juga diliburkan sementara dan seribu lebih warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, katanya.
Desa yang terkena banjir yakni di Kecamatan Matang Kuli meliputi Desa Tumpok Barat, Hagu, Meuria, Alue Tho, Cubrek, Pirak, Siren, Lawang, Anjong, Teungku, Kari, Alue Euntok, Parang Sikureung, Mee, dan Pante Pirak. Sementara di Kecamatan Pirak Timu, yakni Desa Krueng Pirak, Pange, Asan Krueng Kreeh, Reungkam, Beungong, Glee Eumpang, Paya Bakong, Meuria Lhong, Joek, Tanah Luwas, Rayeuk Kuta, Teupin Mee, dan Desa Serba Jaman.
Ia menjelaskan, jalan-jalan juga terendam air sampai pinggang orang dewasa. Menurut dia, pada saat air mulai melintas di Kecamatan Matangkuli, masyarakat telah berhasil keluar dari rumah dan desa mereka, sehingga dengan kondisi air dengan ketinggian 1,5 hingga 2 meter hanya merendam rumah dan harta lainnya milik masyarakat. "Masyarakat sudah lebih dulu keluar sebelum air meninggi hingga 2 meter, rumah, ternak dan harta benda lainnya, termasuk ratusan haktare sawah yang telah ditanami padi semuanya terendam banjir," kata Idris.
Pihaknya mengharapkan DPRK Aceh Utara dan Pemkab Aceh Utara untuk serius memikirkan penanggulangan banjir yang selalu terjaring dua hingga tiga kali dalam setahun.
"Ini persoalan serius, Pemkab Aceh Utara harus memperbaiki tanggul sungai secara permanen, bila kondisi daerah dimaksud selalu terkenan banjir. Kami khawatir jika masyarakat tidak tahan lagi dengan kondisi ini, wajar masyarakat marah dan tidak percaya lagi kepada pemerintah," ujar Idris.

Terkait banjir bandang yang terjadi di Kampung Cibeureum, Kelurahan Mulya Harja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, pihak Pengembang Bogo Nirwana Residen  perumahan mewah milik Bakrie di Bogor Nirwana Residen membantahnya.

Menurut Humas Bogo Nirwana Residen, Wahid peristiwa banjir yang mengakibatkan 31 rumah rusak (sebelumnya 20 rumah) lebih diakibatkan adanya penumpukan sampah di kali Cibeureum. “Banjirnya bukan berasal dari perumahan kami, tapi berasal dari tumpukan sampah yang ada di kali,” ujar Wahid di Bogor, Jumat (27/5/2011).

Sementara itu pasca banjir bandang tersebut, Kapolres Bogor Kota AKBP Hilman dan Dandim 0606 Kota Bogor Letkol KV Sinyo melakukan peninjauan dan membantu evakuasi barang-barang yang bisa diselamatkan. 

“Untuk tahap pertama kami membantu warga dengan mengevakuasi barang barang yang bisa diselamatkan,” ujar Kapolres Bogor Kota.

Kapolres menambahkan, jika diperlukan pihaknya akan membangun tenda untuk keluarga yang rumahnya rusak dan terbawa banjir bandang.

Seperti diberitakan sebelumnya, hujan yang mengguyur kawasan Bogor mengakibatkan sungai Cibeureum, Bogor meluap dan mengakibatkan sedikitnya 20 rumah tersapu banjir.

Kejadian tersebut terjadi di dua RT yaitu RT 4 dan RT 3, RW 8, kampung  Cibeureum, Kelurahan Mulya, Kec Bogor Selatan, Kota Bogor. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, karena pemilik rumah langsung menyelamatkan diri saat air meluap.

Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku kesulitan untuk melakukan proses perbaikan infrastruktur dan rumah warga yang terkena bencana banjir badang dan longsor yang terjadi pada 6 Mei lalu. Alasanya, pemerintah daerah tidak memiliki dana. “Anggaran kita tidak mencukupi,” ujar Bupati Garut, Aceng H.M Fikri, Senin, 23 Mei 2011.

Menurut dia, dibutuhkan dana rekontruksi dan rehabilitasi sebesar Rp 90 miliar. Sementara anggaran yang dimiliki pemerintah daerah hanya sebesar Rp 1,5 miliar dan bantuan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 5,5 miliar. Akan tetapi, dana bantuan itu sampai saat ini belum juga diterima oleh pemerintah Kabupaten Garut.

Dana Rp 90 miliar itu lanjut Aceng, akan dipergunakan untuk memperbaiki 638 rumah rusak berat, 1.264 rusak sedang dan 1.335 rusak ringan. Bantuan untuk rusak berat sebesar Rp 15 juta, rusak sedang Rp 10 juta, dan rusak ringan sebesar Rp 1 juta. Sementara sisanya akan digunakan untuk memperbaiki sarana umum, di antaranya 7 unit sekolah, 69 jembatan, 53 tempat ibadah, 33 saluran irigasi dan 1.306 hektar lahan pertanian.

Aceng mengaku pihaknya telah mengajukan bantuan kepada pemerintah pusat. Namun, sampai saat ini belum juga ada kepastian berapa jumlah dana yang akan diberikan untuk penanggulangan pasca bencana banjir bandang di daerahnya tersebut. “Ya, kita akan memaksimalkan dulu dana yang ada dan melakukan perbaikan yang menjadi prioritas masyarakat,” ujarnya.

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut, Wawan Kurnia, meminta pemerintah pusat untuk segera mempercepat proses rekontruksi korban bencana. Bila tidak, perekonomian masyarakat di wilayah Garut selatan terancam lumpuh. “Ini harus cepat karena kerusakan infrastruktur disana cukup parah juga. Apalagi sebelumnya daerah selatan itu pernah menjadi korban gempa bumi pada 2009 lalu,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bencana banjir bandang ini menerjang enam kecamatan di wilayah selatan, di antaranya Kecamatan Cisompet, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Cibalong dan Kecamatan Pakenjeng. Akibat peristiwa ini, 13 orang tewas. Mereka kebanyakan warga Kecamatan Cikelet